WACANA

Dalam sebuah pandangan pemikiran

23.13

Ilmu Munasabah

Diposkan oleh Halimatus Sa'dyah

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Lahirnya pengetahuan tentang teori korelasi (munasabah) ini berawal dari kenyataan bahwa sistematika Al-Qur'an sebagaimana terdapat dalam Mushaf Utsmani sekarang tidak berdasarkan kronologis turunnya. Oleh karena itu, terdapat perbedaan diantara ulama salaf tentang urutan surat di dalam Al-Qur'an. Pendapat pertama adalah bahwa hal itu berdasarkan taufiqi Nabi saw, pendapat kedua mengatakan bahwa hal itu adalah karena ijtihad sahabat.
Pendapat pertama didukung oleh Al-Qodi Bakr, Abu Bakr Ibn Al-Anbari, Al-Kirmani dan Ibn Al-Hisar. Pendapat kedua didukung oleh Malik, Al-Fariz dan Al-Baihaqi. Salah satu penyebab perbedaan ini adalah bahwa mushaf para ulama salaf berbeda urutan suratnya dan bervariasi. Ada yang menyusun berdasar kronologis turunnya, seperti Mushaf Ali, yang dimulai dengan ayat Iqro’, sedangkan ayat lainnya disusun berdasarkan tempat turunnya Makki kemudian Madani. Adapun mushaf ibn Mas'ud dimulai dengan surat Al-Baqarah, An-Nisa’ dan surat Ali Imron.
Atas dasar inilah ilmu munasabah menjadi perhatian para ulama’ yang mempelajari Ulumul Qur’an. Ulama yang pertama kali menaruh perhatian pada masalah ini adalah Syekh Abu Bakar An-Naisaburi, kemudian diikuti para ulama tafsir seperti Abu Ja’far bin Jubair dan Syaikh Burhanudin Al-Baqa’i
Ulum al-Qur’an sebagai metodologi tafsir sudah terumuskan secara mapan sejak abad ke 7-9 Hijriyah, yaitu saat munculnya dua kitab Ulum al-Qur’an yang sangat berpengaruh sampai kini, yakni al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, karya Badr al-Din al-Zarkasyi (w.794 H) dan al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, karya Jalal al-Din al-Suyuthi (w. 911 H).
Ilmu Munâsabah (ilmu tentang keterkaitan antara satu surat/ayat dengan surat/ayat lain) merupakan bagian dari Ulum al-Qur’an. Ilmu ini posisinya cukup urgen dalam rangka menjadikan keseluruhan ayat al-Qur’an sebagai satu kesatuan yang utuh (holistik). Sebagaimana tampak dalam salah satu metode tafsir Ibn Katsir ; al-Qur’an yufassirû ba’dhuhu ba’dhan, posisi ayat yang satu adalah menafsirkan ayat yang lain, maka memahami al-Qur’an harus utuh, jika tidak, maka akan masuk dalam model penafsiran yang atomistik (sepotong-sepotong).
Nasr Hamid Abu Zaid, wakil dari ulama kontemporer, berpendapat bahwa urutan-urutan surat dalam mushaf sebagai tauqifi, karena menurut dia, pemahaman seperti itu sesuai dengan konsep wujud teks imanen yang sudah ada di lauh mahfudz. Perbedaan antara urutan “turun” dan urutan “pembacaan” merupakan perbedaan yang terjadi dalam susunan dan penyusunan yang pada gilirannya dapat mengungkapkan “persesuaian” antar ayat dalam satu surat, dan antar surat yang berbeda, sebagai usaha menyingkapkan sisi lain dari I’jaz .
Secara sepintas jika diamati urut-urutan teks dalam al-Qur’an mengesankan al-Qur’an memberuikan informasi yang tidak sitematis dan melompat-lompat. Satu sisi realitas teks ini menyulitkan pembacaan secara utuh dan memuaskan, tetapi sebagaimana telah disinggung oleh Abu Zaid, realitas teks itu menujukkan ‘stalistika’ (retorika bahasa) yang merupakan bagian dari I’jaz al-Qur’an aspek kesusasteraan dan gaya bahasa. Maka dalam konteks pembacaan secara holistik pesan spiritual al-Qur’an, salah satu instrumen teoritiknya adalah dengan ‘ilm munâsabah
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian munasabah?
2. Ada berapa macam munasabah?
3. Apakah manfaat ilmu munasabah?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Munasabah
Menurut bahasa, munasabah berarti persesuaian atau hubungan/ relevansi, yaitu hubungan persesuaian antara ayat/surat yang satu dengan surat/ayat yang sebelum atau sesudahnya.
Sedangkan secara terminologi, tentang pengertian munasabah banyak ulama yang mendefinisikan, antara lain :
1. Menurut Az-Zarkasyi
المناسبة امرمعقول اذاعرض على العقول تلقه بالقبول
Arinya: “Munasabah adalah suatu hal yang dapat dipahami. Tatkala dihadapkan dengan akal, pasti akal itu akan menerimanya”.
2. Menurut Ibn Al-‘Arabi
ارتباط اى القران بعضهاببعض ختى تكون كالكلمة الواحدة متسقة المعانى منتظمة المبانى علم عظيم
Artinya: “Munasabah adalah keterkaitan ayat-ayat Al-Qur'an sehingga seolah-olah merupakan satu ungkapan yang mempunyai kesatuan makna dan keteraturan redaksi. Munasabah merupakan ilmu yang sangat agung”.

3. Menurut Manna’ Al-Qaththan
Munasabah adalah sisi keterkaitan antar beberapa ungkapan di dalam satu ayat atau antar ayat pada beberapa ayat, atau antar surat di dalam Al-Qur'an.
Jadi, dalam konteks ‘Ulum Al-Qur'an, munasabah berarti menjelaskan korelasi makna antar ayat atau antar surat, baik korelasi itu bersifat umum maupun khusus, rasional, persepsi, atau imajinatif, atau korelasi sebab-akibat, perbandingan, dan perlawanan
Para ulama ada yang mengatakan bahwa hubungan antar surat/ayat tidak selalu ada. Hanya memang sebagian besar ayat-ayat dan surat-surat ada hubungannya satu sama lain.
Untuk meneliti keserasian susunan ayat dan surat (munasabah), dalam Al-Qur'an diperlukan ketelitian dan pemikiran yang mendalam. As-Syuyuti menjelaskan beberapa langkah yang perlu diperhatikan antara lain:
a. Memperhatikan tujuan pembahasan suatu surat yang merupakan obyek pencarian.
b. Memperhatikan uraian ayat-ayat yang sesuai dengan tujuan yang dibahas dalam surat.
c. Menentukan tingkatan uraian-uraian itu, apakah ada hubungannya atau tidak.
d. Dalam mengambil kesimpulan, hendaknya memperhatikan ungkapan-ungkapan bahasanya dengan benar dan tidak berlebihan.
Perbedaan antara ilmu Asbab An-Nuzul dengan ilmu pertautan (munasabah) yaitu ilmu Asbab An-Nuzul mengaitkan satu ayat atau sejumlah ayat dengan konteks sejarahnya, maka fokus ilmu munasabah adalah persesuaian antar ayat dan beberapa surat pada aspek pertautan antar ayat dan surat menurut urutan teks, bukan pada kronologis historis.

B. Macam-macam Sifat Munasabah
Jika ditinjau dari segi sifat munasabah atau keadaan persesuaian dan persambungannya, maka munasabah itu ada dua macam, yaitu :
a. Persesuaian / Persambungan yang Jelas / Nyata (Dzaahirul Irbath)
Yaitu persambungan atau persesuaian antara bagian Al-Qur'an yang satu dengan yang lainnya tanpa jelas dan kuat karena kaitan kalimat yang satu dengan lainnya erat sekali, sehingga yang satu tidak dapat sempurna tanpa dan jika dipisah dengan kalimat lainnya. Contohnya: seperti persambungan antara surat Al-Isra’ ayat 1 dengan ayat 2:
Al-Isra’ ayat 1 :
Artinya: “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha”.
Ayat tersebut menerangkan Isra’ Nabi Muhammad saw, selanjutnya :
Al-Isra’ ayat 2 :
Artinya: “Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil”.
Ayat ini menerangkan tentang diturunkannya kitab Taurat kepada Nabi Musa as.
Persesuaian antara kedua ayat tersebut ialah tampak jelas mengenai diutusnya kedua orang Nabi/Rasul tersebut.



b. Persambungan yang Tidak Jelas / Samar (Khafiyyul Irbath)
Yaitu persesuaian yang samar antar bagian Al-Qur'an dengan bagian yang lain, sehingga tidak tampak pertalian antar keduanya, bahkan seolah-olah antar kedua ayat tersebut berdiri sendiri-sendiri. Contohnya adalah hubungan antara ayat 189 QS. Al-Baqarah dengan ayat 190 surat QS. Al-Baqarah.
QS. Al-Baqarah ayat 189 :
Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji”.
QS Al-Baqarah Ayat 190 :
Artinya: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas”.
Sekilas memang tidak ada hubungan antara kedua ayat tersebut, tetapi sebenarnya ada hubungan yang samar, yakni pada waktu bulan ibadah haji, umat Islam tidak boleh berperang, kecuali jika mereka diserang terlebih dahulu, maka mereka boleh membalas serang tersebut.

C. Macam-macam Munasabah
Dalam Al-Qur'an sekurang-kurangnya terdapat tujuh macam munasabah, yaitu berikut ini:
1. Munasabah antara Surat dengan Surat Sebelumnya
As-Syuyuti menyimpulkan bahwa munasabah antar surat sebelumnya berfungsi menerangkan atau menyempurnakan ungkapan pada surat sebelumnya. Sebagai contoh, dalam surat Al-Fatihah ayat 1 terdapat ungkapan الحمدالله رب العالمين (ungkapan syukur).
Ungkapan ini berkorelasi dengan surat Al-Baqarah ayat 152 dan 186 :
      
Artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”.
Lafadz alhamdulillah merupakan ungkapan syukur, sebagaimana ayat 152 Al-Baqarah yang memerintahkan untuk bersyukur dan agar tidak mengingkari nikmat Allah swt.
Lafadz alhamdulillah juga berkorelasi dengan QS. Al-Baqarah ayat 21-22, yang menunjukkan beberapa nikmat Allah atas manusia.
Artinya :
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui”.(QS. Al-Baqarah ayat 21-22)

2. Munasabah antara Nama Surat dan Tujuan Turunnya
Setiap surat mempunyai tema pembicaraan yang menonjol dan itu tercermin pada masing-masing, seperti surat Al-Baqarah, surat Yusuf, An-Naml dan surat Al-Jiin. Kesemuanya surat ini menceritakan tentang apa yang ada dalam tema tersebut, antara lain tentang sapi, Nabi Yusuf, lebah dan jin.
Contohnya Firman Allah pada surat Al-Baqarah Ayat 67-71.
Artinya :
“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina." mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?" Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil". Mereka menjawab: "mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina Apakah itu." Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu". Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami apa warnanya". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya." Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena Sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi Kami dan Sesungguhnya Kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)." Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya....”
Cerita tentang lembu betina dalam surat Al-Baqarah di atas mengandung inti pembicaraan tentang kekuasaan Allah swt membangkitkan orang mati, dengan kata lain tujuan ayat ini adalah tentang kekuasaan Allah dan keimanan pada hari kemudian.
3. Munasabah antar Bagian Suatu Surat
Munasabah antar bagian suatu surat sering berbentuk pola munasabah at-tadhadat (perlawanan). Seperti contoh :
                            …..
Artinya:
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya ....” (QS. Al-Hadid : 4)
Diantara kata yaliju (masuk) dan kata yakhruju (keluar), serta kata yanzilu (turun) dan ya’ruju (naik) terdapat korelasi berlawanan.

4. Munasabah antara Ayat yang Berdampingan
Munasabah antar ayat yang letaknya berdampingan sering terlihat jelas, tetapi sering pula tidak jelas.
1) Munasabah yang terlihat jelas umumnya menggunakan pola ta’kid (penguat), tafsir (penjelas), i’tiradh (bantahan), dan tasydidi (penegasan).
a. Munasabah antara ayat pola ta’kid (penguat)
Yaitu apabila salah satu ayat atau bagian ayat tersebut memperkuat makna ayat-ayat bagian ayat yang terletak disampingnya. Contohnya :
         
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Al-Fatihah : 1-2)
Ungkapan  tersebut memperkuat kata  
b. Munasabah antara ayat pola tafsir (penjelas)
Yaitu apabila suatu ayat atau bagian ayat tertentu ditafsirkan oleh ayat atau bagian ayat yang lain. Contohnya firman Allah swt berikut :
                  
Artinya: “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang berimankepada yang ghaib, yang mendirikan shalat[15], dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka”. (QS. Al-Baqarah : 2-3)
Kata muttaqin pada ayat kedua, ditafsirkan maknanya oleh ayat yang ketiga, yakni orang-orang yang beriman kepada yang ghoib, yang mendirikan shalat, menafkahkan sebagian hartanya.
c. Munasabah antara ayat pola I’tiradh (bantahan)
Yaitu apabila terdapat satu kalimat atau lebih yang tidak ada kedudukannya dalam ‘Irab (struktur kalimat), baik di pertengahan kalimat atau diantara dua kalimat yang berhubungan dengan maknanya. Seperti contoh berikut :
      •  
Artinya: “Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan[831]. Maha suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (Yaitu anak-anak laki-laki)”. (QS. AN-Nahl : 57)
Kata  pada ayat di atas merupakan bentuk I’tiradh dari dua ayat yang mengantarnya. Kata itu merupakan bantahan bagi kaum orang-orang kafir yang menetapkan anak-anak perempuan bagi Allah.
d. Munasabah antara ayat pola tasydidi (penegasan)
Yaitu apabila suatu ayat atau bagian ayat mempertegas arti ayat yang terletak di sampingnya. Contohnya adalah firman Allah swt pada surat Al-Fatihah ayat 6-7 berikut :
             
Artinya : “Tunjukkanlah Kami ke jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (QS. Al-Fatihah : 6-7)
Ungkapan   pada ayat 6 dipertegas dengan kalimat  kedua ungkapan yang saling memperkuat itu terkadang ditandai dengan tanda huruf ‘athof (langsung) dan terkadang tidak pula diperkuat olehnya.
2) Munasabah antar ayat yang terlihat tidak jelas umumnya menggunakan qara’in ma’nawiyah (hubungan makna). Ada beberapa pola diantara: at-tanzir (perbandingan), al-mudhadat (perlawanan), istithrad (penjelasan lebih lanjut), dan at-takhallush (perpindahan).
a. Munasabah yang berpolakan at-tanzir (perbandingan)
Pola ini terlihat seperti pada arti ayat berikut :
Artinya: “Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia. Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, Padahal Sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya”. (QS. Al-Anfal : 4-5)
Pada ayat kelima, Allah memerintahkan Rasulnya agar terus melaksanakan perintahNya, meskipun para sahabat tidak menyukainya. Pada ayat keempat, Allah memerintahkan agar tetap keluar dari rumah untuk berperang. Munasabah antara kedua ayat tersebut terletak pada perbandingan antara ketidaksukaan para sahabat terhadap pembagian ghonimah yang dibagikan Rasul dan ketidaksuksesan untuk berperang.
b. Munasabah yang berpolakan al-mudhadat (perlawanan)
Dalam pola ini terlihat adanya perlawanan makna antar satu ayat dengan makna lain yang berdampingan. Seperti contoh pada QS. Al-Baqarah ayat 6 :
•           
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman”. (QS. Al-Baqarah : 6)
c. Munasabah yang berpolakan istithrad (penjelasan lebih lanjut)
Munasabah seperti ini terlihat adanya penjelasan lebih lanjut dari satu ayat. Seperti pada contoh ayat berikut :
Artinya: ”Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa. Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat”. (QS. Al-A’raf : 26)
Ayat ini, menurut Az-Zamakhsyari, datang setelah pembicaraan tentang terbukanya aurat Adam-Hawa dan menutup aurat tersebut dengan daun. Hubungan ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa penciptaan pakaian berupa daun merupakan karunia Allah, telanjang dan terbuka aurat merupakan suatu perbuatan yang hina dan menutupnya merupakan bagian terbesar dari taqwa.
d. Munasabah yang berpolakan at-takhallush (perpindahan)
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada surat Al-A’raf ayat 7, pada pola-pola ayat pada surat tersebut, mula-mula Allah berbicara tentang para Nabi dan umat terdahulu, kemudian tentang Nabi Musa dan para pengikutnya yang selanjutnya bercerita tentang Nabi Muhammad saw. Dari pola tersebut dapat dilihat pola perpindahan hubungan dari cerita terdahulu sampai pada Nabi Muhammad.

5. Munasabah antara Kelompok Ayat dengan Kelompok Ayat Disampingnya
Seperti pada pola surat Al-Baqarah ayat 1 sampai dengan ayat 20, Allah menjelaskan tentang kebenaran dan fungsi Al-Qur'an bagi orang-orang yang bertaqwa. Dalam kelompok ayat berikutnya dibicarakan tentang kelompok manusia dan sifat mereka yang berbeda-beda, yaitu ada yang mukmin, kafir dan munafiq.

6. Munasabah antara Fashilah (Pemisah) dengan Isi Ayat
Jenis munasabah ini mengandung tujuan tertentu. Diantaranya adalah menguatkan (tamkin) makna yang terkandung dalam suatu ayat. Umpamanya diungkapkan dalam surat Al-Ahzab ayat 25 yang artinya seperti berikut :
Artinya: “Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang Keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh Keuntungan apapun. dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa”. (QS. Al-Ahzab : 25)
Dalam ayat ini Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan; bukan karena menganggap lemah, melainkan karena Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa. Adanya pemisah (waqof) pada ayat di atas dimaksudkan agar pemahaman ayat di atas menjadi lurus dan sempurna.
Selain itu, fashilah ini juga bertujuan untuk memberi penjelasan tambahan, sebagaimana ayat berikut :
•           
Artinya: “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang”. (QS. An-Naml : 80)
Dalam ayat di atas, lafadh   merupakan tambahan terhadap makan orang tuli.

7. Munasabah antara Awal Surat dan Akhir dalam Surat yang Sama
Untuk munasabah seperti ini, As-Syuyuti telah mengarang sebuah kitab berjudul Marasid al-Mathali fi Tanasub Al-Maqati wa Al-Mathali. Contohnya: seperti pada surat Al-Qoshos (28) yang diawali dengan penjelasan perjuangan Nabi Musa menghadapi Fir’aun. Atas perintah dan pertolongan Allah, Nabi Musa berhasil keluar Mesir setelah mengalami beberapa tekanan. Dalam awal surat ini juga dijelaskan bahwa Nabi Musa tidak akan menolong orang kafir. Pada akhir surat, Allah menyampaikan kabar gembira kepada Nabi Muhammad yang menghadapi tekanan dari kaumnya dan janji Allah atas kemenangan.

8. Munasabah Antar Penutup Satu Surat dengan Awal Surat Berikutnya
Jika memperhatikan setiap pembukaan surat, kita akan menjumpai munasabah dengan akhir surat sebelumnya, sekalipun tidak mudah untuk mencarinya. Umpamanya, pada permulaan surat Al-Hadid dimulai dengan tasbih :
          
Artinya: “Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Hadid : 1)
Ayat ini bermunasabah dengan akhir surat sebelumnya, yakni akhir surat Waqi’ah, seperti berikut :
    
Artinya: “Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha besar”. (QS. Al-Waqi’ah : 96)

9. Munasabah antar Awal Surat dengan Awal Surat Berikutnya (Urutan)
Ulama adalah yang mengatakan bahwa urutan surat Al-Isra dan Al-Kahfi adalah karena urutan dari ayat pertamanya. Surat Al-Isra’ diawali dengan tasbih dan surat al-Kahfi diawali dengan tahmid. Sebab tasbih biasanya didahulukan sebelum tahmid.

D. Urgensi dan Kegunaan Mempelajari Munasabah
Faedah mempelajari ilmu munasabah ini banyak sekali, antara lain :
1. Mengetahui persambungan / hubungan antara bagian Al-Qur'an, baik antara kalimat atau antar ayat maupun antar surat, sehingga lebih memperdalam pengetahuan pengenalan terhadap kitab Al-Qur'an dan memperkuat keimanan terhadap Al-Qur'an.
2. Dengan ilmu munasabah itu, kita dapat mengetahui mutu dan tingkat kebalaghahan bahasa Al-Qur'an dan konteks kalimat satu dan lainnya, serta persesuaian ayat / suratnya yang satu dan lainnya. Sehingga hal ini dapat menambah keyakinan tentang kemukjizatan Al-Qur'an yang merupakan kalam dan wahyu Allah swt bukan merupakan buatan Nabi Muhammad saw. Syekh Fakrudin Al-Rozy mengatakan bahwa kebanyakan keindahan Al-Qur'an itu terletak pada susunan dan persesuaian, sedangkan susunan kalimat yang paling bailghj (bersastra) adalah yang paling berhubungan antara bagian yang atau dengan lainnya.
3. Dengan ilmu munasabah akan sangat membantu dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an, setelah diketahui hubungan sesuatu kalimat / suatu ayat dengan kalimat / ayat lain, sehingga sangat mempermudah pengistimbatan hukum-hukum atau sisi kandungannya.
4. Sebagaimana Asbab An-Nuzul, munasabah sangat berperan dalam memahami Al-Qur'an. Dengan demikian tidak perlu lagi mencari asbab an-nuzul-nya karena pertautan satu ayat dengan lainnya sudah dapat mewakili.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dalam konteks ‘Ulum Al-Qur'an, Munasabah berarti menjelaskan korelasi makna antar ayat atau antar surat, baik korelasi itu bersifat umum maupun khusus, rasional, persepsi atau imajinatif atau korelasi sebab-akibat, perbandingan dan perlawanan.
Macam-macam munasabah :
1. Munasabah antar surat dengan surat sebelumnya.
2. Munasabah antar nama surat dengan kandungannya.
3. Munasabah antar bagian satu surat.
4. Munasabah antar ayat yang berdampingan.
5. Munasabah antar suatu kelompok ayat disampingnya.
6. Munasabah antar penutup satu surat dengan awal surat lainnya.
7. Munasabah antar fashilah dengan isi ayat.
8. Munasabah antar penutup satu surat dengan awal surat berikutnya.
9. Munasabah antar awal dan akhir surat dalam surat yang sama.
Macam-macam sifat munasabah :
a. Persesuaian / persambungan yang jelas / nyata (Dzaahirul Irbath)
b. Persambungan yang tidak jelas / samar (Khafiyyul Irbath)
Macam-macam munasabah antar ayat yang berdampingan :
a. Pola jelas: ta’kid (penguat), tafsir (penjelas), i’tiradh (bantahan), dan tasydidi (penegasan).
b. Pola tidak jelas: at-tanzir (perbandingan), al-mudhadat (perlawanan), istithrad (penjelasan lebih lanjut), dan at-takhallush (perpindahan).


DAFTAR RUJUKAN

Djalal, Abdul. Ulumul Qur’an. Surabaya: Dunia Ilmu. 2008.
Syadali, Ahmad dan Rofi’i Ahmad. Ulumul Qur’an. Bandung: Pustaka Setia. 1995.
Badr, Ad-Din Muhammad bin ‘Abdullah Az-Zarkasyi. al-Burhan fi Ulum Al-Qur'an, Jilid I.
Al-Abyari, Ibrahim. Sejarah Al-Qur'an. Semarang: Dina Utama. 1993.
As-Syuyuti, Jalaludin. Al-Iqan fi Ulum Al-Qur'an. Beirut: Dar Al-Fikri, tt. Jilid I.
Al-Qaththan, Manna’. Mabahits fi Ulum Al-Qur'an, Mansyurat Al-‘Ashr Al-Hadits. 1973.
Zuhdi, Masjfuk. Pengantar ‘Ulumul Qur’an. Surabaya: Bina Ilmu. 1987.
Abu Zaid, Nasr Hamid. Mafhum an-Nasli Dirasah fi ‘Ulum Al-Qur'an, (Terj. Khoiron Nahdliyyin), Cet. IV. Yogyakarta: Pelangi Aksar. 2005.
Anwar, Rosihan. Ulumul Qur’an. Bandung: Pustaka Setia. 2000.
Abu Zaid Nasr Hamid, Tekstualitas al-Qur’an : Ktitik Terhadap Ulumul Qur’an, Yogyakarta : LkiS, 2001